bahagia itu bersyukur

Kamis, 23 April 2015

Artikel

KEMANA GARUDAKU TERBANG

Qurasun Shieldhy S.H

Indonesia, bangsa yang tangguh dan berani, semua ini terbukti dari perjuangan rakyatnya melawan penjajahan selama berabad-abad. Dari semua perjuangan yang rakyat indonesia lakukan,  muncul pahlawan-pahlawan yang berani dan tangguh. Butuh waktu lama untuk mempersatukan rakyat Indonesia yang terpencar dari Sabang sampai Merauke, dari Minahasa sampai Pulau Rote. Beribu kali perang melawan penjajah sehingga Indonesia mampu menyatukan suaranya untuk merdeka. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno julukan bagi Ir. Soekarno menyerukan peryataan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka dari segala bentuk penjajahan.
Indonesia yang begitu luas dan penuh ragam budaya dan bahasa, juga karakter yang begitu banyak macamnya, semua ini butuh dasar panutan agar kekayaan bangsa ini tidak luntur dan hilang sedikit demi sedikit. Pancasila, lima sila yang terpampang pada dada garuda yang diharapkan dapat dibawa terbang setinggi – tingginya. Sehingga dapat membawa karakter indonesia menjadi karakter panutan yang baik. Namun apa yang terjadi pada lima sila ini. Apakah lima sila di dada garuda Indonesia yang menjadi karakter bangsa indonesia  telah hilang di bawa sang garuda terbang tiinggi sehingga tak terlihat lagi wujudnya.
Sejatinya penulis ingin mengajak pembaca untuk bersama – sama menyimak secara seksama “Kemana Garudaku Terbang”. Dalam bahasan ini kita akan membahas lima sila yang mulai hilang dari jiwa bangsa indonesia. Melihat kenyataan di Indonesia banyak kasus yang mulai mengakar rumput hingga karakter Indonesia yang dulu hilang. Tak hanya itu, namun lima sila ini juga banyak yang tidak menghafalnya.
Pada pembahasan ini kita mulai dari sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pada sila ini mengakaitkan manusia dengan Tuhannya, yang mana pada sila ini menggambarkan ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Itulah yang diharapkan para pendahulu Indonesia. Namun apa yang terjadi sekarang, banyak dari rakyat Indonesia yang melanggar dari aturan Tuhannya. Contohnya saja hubungan sex diluar nikah, hal ini pastinya merupakan hal yang dilarang oleh Sang Pencipta. Karena hal ini pasti memunculkan masalah, seperti bunuh diri hingga pembunuhan. Sungguh miris bila melihat bangsa yang diharapkan dapat memberi akhlaq yang baik tapi justru sebaliknya.
Jika berbicara tentang Akhlak, agama di Indonesia pasti memiliki ajaran kehidupan yang baik untuk dicontoh. Tapi mengapa kok masih banyak yang orang tidak mengaplikasikan ajaran itu? Justru mereka hanya menggunakan ajaran itu sebagai pengetahuan saja. Sebagai contohnya bila kita tahu bahwa kemungkaran harus di hentikan, tapi mengapa kok masih ada yang ikut – ikutan malah mendukung kemungkaran itu terjadi. Ada apa dengan Indonesia, dimana hati dan pikiran mereka. Apakah hati dan pikiran mereka sudah luntur oleh salah satunya.
Selanjutnya kita akan membahas sila yang kedua, yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Ada 3 kata kunci di dalam sila ini, “kemanusiaan”, “adil” dan “beradab”. Jika kata–kata pada sila ini  diartikan keseluruhannnya maka, keadilan yang beradab bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada sila ini di harapkan para petinggi bangsa ini mampu memberikan keadilan dan adab yang baik bagi rakyatnya, namun apa nyatanya sekarang banyak para petinggi yang berlaku jauh dari adil dan adab. Misalnya saja ketika pemberian vonis pada seorang nenek tua yang digugat karena mengambil ketela di lahan orang dan seorang pejabat yang terbukti korupsi uang rakyat. Dalam hal ini, yang telah kita ketahui, bahwa perlakuan yang di terima oleh masing – masing kasus sangatlah berbeda dan tidak adil. 
            Di bangsa ini maling uang rakyat lebih diperlakukan VIP. Jika kita pernah mendengar berita yang menyatakan bahwa penjara para koruptor itu memiliki fasilitas lebih dari pada penjara rakyat biasa. Dimana keadilan bangsa ini, bangsa yang katanya memiliki dasar Pancasila. Tapi dasar negara itu bagaikan tulisan di pesisir pantai yang lama kelamaan hilang terkena air laut.
            Pada sila ketiga yang berbunyi “persatuan Indonesia”, makna dari sila ketiga ini adalah persatuan bagi bangsa Indonesia. Yang mana kalimat ini luas maknanya. Dikatakan persatuan bila seluruh rakyat bersatu dengan penuh toleransi. Namun nyatanya sekarang banyak perpecahan di sana-sini. Contohnya saja para pelajar di bangsa ini, banyak para pelajar yang bentrok atau tawur hanya untuk memenangkan keinginan pribadi atau kelompok.
 Beginilah nyatannya bangsa Indonesia sekarang yang memikirkan egonya sendiri, tanpa memikirikan persatuan dan kesatuan. Sehingga bangsa ini sangat mudah terpecah belah dan sangat rentan dijajah oleh ideologi-ideologi asing. Jika kita bernostalgia keenam puluh sembilan  tahun yang lalu, yang mana bangsa ini bersatu untuk berjuang melawan penjajah. Karena persatuan mereka bangsa ini merdeka dan berjaya. Namun apa terjadi  setelah merdeka,  sedikit demi sedikit persatuan bangsa ini mulai luntur dari rakyat bangsa Indonesia.
Sila keempat, pada sila ini membahas tentang kedudukan musyawarah dalam menentukan suatu hal. Musyawarah dalam menentukan sebuah keputusan adalah cara yang adil. Karena dengan musyawarah semua peserta dapat memberikan suara dan keputusan merupakan kesepakatan bersama. Namun sekarang tidak sedikit yang menggunakan musyawaarah sebagai jalan keluar dari suatu masalah.
Pada sila kelima, membahas tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang mana sila ini sangat menyinggung keadaan bangsa Indonesia sendiri. Contohnya saja kita tahu instansi masyarakat yang melaksanakan perekrutan dengan cara yang tidak bersih. Banyak Instansi di Indonesia yang melakukan perekrutan lebih mengutamakan uang. Cara seperti inilah yang menodai sila kelima.
Inti dari pembahasan ini ialah nasib lima sila yang mulai luntur dan juga nasib bangsa Indonesia yang tidak diharapkan. Jadi, marilah kita tanyakan pada diri kita, masih adakah lima sila pada diri dan jiwa kita.