KEMANA GARUDAKU TERBANG
Qurasun Shieldhy S.H
Indonesia,
bangsa yang tangguh dan berani, semua ini terbukti dari perjuangan rakyatnya
melawan penjajahan selama berabad-abad. Dari semua perjuangan yang rakyat indonesia
lakukan, muncul pahlawan-pahlawan yang
berani dan tangguh. Butuh waktu lama untuk mempersatukan rakyat Indonesia yang
terpencar dari Sabang sampai Merauke, dari Minahasa sampai Pulau Rote. Beribu
kali perang melawan penjajah sehingga Indonesia mampu menyatukan suaranya untuk
merdeka. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno julukan bagi Ir.
Soekarno menyerukan peryataan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka dari segala
bentuk penjajahan.
Indonesia yang
begitu luas dan penuh ragam budaya dan bahasa, juga karakter yang begitu banyak
macamnya, semua ini butuh dasar panutan agar kekayaan bangsa ini tidak luntur
dan hilang sedikit demi sedikit. Pancasila, lima sila yang terpampang pada dada
garuda yang diharapkan dapat dibawa terbang setinggi – tingginya. Sehingga
dapat membawa karakter indonesia menjadi karakter panutan yang baik. Namun apa
yang terjadi pada lima sila ini. Apakah lima sila di dada garuda Indonesia yang
menjadi karakter bangsa indonesia telah
hilang di bawa sang garuda terbang tiinggi sehingga tak terlihat lagi wujudnya.
Sejatinya
penulis ingin mengajak pembaca untuk bersama – sama menyimak secara seksama
“Kemana Garudaku Terbang”. Dalam bahasan ini kita akan membahas lima sila yang
mulai hilang dari jiwa bangsa indonesia. Melihat kenyataan di Indonesia banyak
kasus yang mulai mengakar rumput hingga karakter Indonesia yang dulu hilang.
Tak hanya itu, namun lima sila ini juga banyak yang tidak menghafalnya.
Pada pembahasan
ini kita mulai dari sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pada sila
ini mengakaitkan manusia dengan Tuhannya, yang mana pada sila ini menggambarkan
ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Itulah yang diharapkan para
pendahulu Indonesia. Namun apa yang terjadi sekarang, banyak dari rakyat
Indonesia yang melanggar dari aturan Tuhannya. Contohnya saja hubungan sex
diluar nikah, hal ini pastinya merupakan hal yang dilarang oleh Sang Pencipta.
Karena hal ini pasti memunculkan masalah, seperti bunuh diri hingga pembunuhan.
Sungguh miris bila melihat bangsa yang diharapkan dapat memberi akhlaq yang
baik tapi justru sebaliknya.
Jika berbicara
tentang Akhlak, agama di Indonesia pasti memiliki ajaran kehidupan yang baik
untuk dicontoh. Tapi mengapa kok masih banyak yang orang tidak mengaplikasikan
ajaran itu? Justru mereka hanya menggunakan ajaran itu sebagai pengetahuan
saja. Sebagai contohnya bila kita tahu bahwa kemungkaran harus di hentikan,
tapi mengapa kok masih ada yang ikut – ikutan malah mendukung kemungkaran itu
terjadi. Ada apa dengan Indonesia, dimana hati dan pikiran mereka. Apakah hati
dan pikiran mereka sudah luntur oleh salah satunya.
Selanjutnya kita
akan membahas sila yang kedua, yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Ada 3
kata kunci di dalam sila ini, “kemanusiaan”, “adil” dan “beradab”. Jika kata–kata
pada sila ini diartikan keseluruhannnya
maka, keadilan yang beradab bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada sila ini di
harapkan para petinggi bangsa ini mampu memberikan keadilan dan adab yang baik
bagi rakyatnya, namun apa nyatanya sekarang banyak para petinggi yang berlaku
jauh dari adil dan adab. Misalnya saja ketika pemberian vonis pada seorang
nenek tua yang digugat karena mengambil ketela di lahan orang dan seorang
pejabat yang terbukti korupsi uang rakyat. Dalam hal ini, yang telah kita
ketahui, bahwa perlakuan yang di terima oleh masing – masing kasus sangatlah
berbeda dan tidak adil.
Di
bangsa ini maling uang rakyat lebih diperlakukan VIP. Jika kita pernah
mendengar berita yang menyatakan bahwa penjara para koruptor itu memiliki
fasilitas lebih dari pada penjara rakyat biasa. Dimana keadilan bangsa ini,
bangsa yang katanya memiliki dasar Pancasila. Tapi dasar negara itu bagaikan
tulisan di pesisir pantai yang lama kelamaan hilang terkena air laut.
Pada
sila ketiga yang berbunyi “persatuan Indonesia”, makna dari sila ketiga ini
adalah persatuan bagi bangsa Indonesia. Yang mana kalimat ini luas maknanya.
Dikatakan persatuan bila seluruh rakyat bersatu dengan penuh toleransi. Namun
nyatanya sekarang banyak perpecahan di sana-sini. Contohnya saja para pelajar
di bangsa ini, banyak para pelajar yang bentrok atau tawur hanya untuk
memenangkan keinginan pribadi atau kelompok.
Beginilah nyatannya bangsa Indonesia sekarang
yang memikirkan egonya sendiri, tanpa memikirikan persatuan dan kesatuan. Sehingga
bangsa ini sangat mudah terpecah belah dan sangat rentan dijajah oleh
ideologi-ideologi asing. Jika kita bernostalgia keenam puluh sembilan tahun yang lalu, yang mana bangsa ini bersatu
untuk berjuang melawan penjajah. Karena persatuan mereka bangsa ini merdeka dan
berjaya. Namun apa terjadi setelah
merdeka, sedikit demi sedikit persatuan
bangsa ini mulai luntur dari rakyat bangsa Indonesia.
Sila
keempat, pada sila ini membahas tentang kedudukan musyawarah dalam menentukan
suatu hal. Musyawarah dalam menentukan sebuah keputusan adalah cara yang adil.
Karena dengan musyawarah semua peserta dapat memberikan suara dan keputusan
merupakan kesepakatan bersama. Namun sekarang tidak sedikit yang menggunakan
musyawaarah sebagai jalan keluar dari suatu masalah.
Pada
sila kelima, membahas tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
yang mana sila ini sangat menyinggung keadaan bangsa Indonesia sendiri.
Contohnya saja kita tahu instansi masyarakat yang melaksanakan perekrutan
dengan cara yang tidak bersih. Banyak Instansi di Indonesia yang melakukan
perekrutan lebih mengutamakan uang. Cara seperti inilah yang menodai sila
kelima.
Inti
dari pembahasan ini ialah nasib lima sila yang mulai luntur dan juga nasib
bangsa Indonesia yang tidak diharapkan. Jadi, marilah kita tanyakan pada diri
kita, masih adakah lima sila pada diri dan jiwa kita.